Rabu, 18 Maret 2020

Rindu yang Mengharu


Pagi ini, saat akan memulai proses belajar dalam jaringan, tiba-tiba telepon pintar ini berdering. Ups, ternyata ada panggilan video. Ouwh..! mengajak teleconference ternyata. Ah, kawan ini, tak terbayang mungkin kalau kami harus terpisah oleh waktu dan tempat. Terbiasa dengan rutinitas saling sapa, cium pipi kiri kanan, berbincang sejenak sebelum masuk kelas dan lain-lain. Pagi ini, yang ada sedikit senyap, hanya ada suara anak-anak yang meminta bantuan untuk menuntaskan tugas dari guru mereka masing-masing. Sedangkan kami harus terhubung juga dengan anak didik melalui dunia maya.
Irama yang memang membutuhkan adaptasi baru. Ada kehilangan yang akan menetap sejenak di labirin kehidupan. Ini baru hari kedua, kami sudah membayangkan bagaimana kekosongan ini akan diisi. Gelak tawa di ruang guru sambil menyantap makanan yang dibawa dari rumah masing-masing, akan terjeda. Ada suasana yang akan hilang sejenak di relung sanubari. Gurauan spontan yang membuat suasana meriah terpetikan sementara. Labirin hati pun akan sunyi seiring suasana belajar di rumah yang belum menentu.
Ah, tampak wajah-wajah sahabat yang seharusnya bertemu berdekat fisk, kini hanya bisa ditatap lewat layar telepon pintar. Raut yang akan selalu terpaut walau jarak dan waktu memisahkan. Senyum dan tawa masih terukir, saling tatap tanpa cemas, dan hanya doa teriring semoga bisa melalui ini dengan sehat.
Wajah emakku jauh di Ciamis nampak gembira dengan piring yang ada di hadapannya. Rupanya sedang sarapan saat ponselnya berbunyi mengajak video call. Wajah yang akan dirindu karena ia mampu segarkan suasana. Celetukannya yang spontan dan tak dibuat-buat mampu mengajak perut ini sakit karena menahan tawa. Beberapa aksinya saat berbincang hangat sempat diabadikan lewat kamera video ponselnya atau milik kawan yang lain. Gayanya yang khas ketika bicara pun sudah membuat kami tertawa. Perjuangannya menempuh perjalanan dari rumah di dusun Cariu Ciamis tak membuatnya mengeluh untuk mengabdi. 

Jarak tempuh yang jauh inilah yang membuat ia selalu menampilkan ciri khasnya. Apakah itu? Setumpuk nasi di tupperware berwarna oranye. Kalau melihat, jangan heran kalau warna oranyenya sudah mulai memudar. Tapi ingat, mereknya itu lho, tupperware, dan kita pun bisa tertawa bersama, hahaha. Nasi segitu kita santap sama-sama, lauknya dari kawan lain yang menggondolnya dari rumah. Jika tidak, kami akan beli bareng-bareng berupa gehu, bala-bala, pecel itu sudah lebih dari cukup dibanding kebersamaan yang kami bangun. Salah satu perempuan pejuang yang menjadi inspirasi. Semoga sehat selalu ya, Mak, dan kita bisa berjumpa lagi.

Lain lagi dengan perempuan tangguh yang satu ini. Ia pekerja keras, bisa jadi sangat keras. Perjuangannya memenuhi kebutuhan hidup ia dan anaknya semata wayang tak bisa disangsikan lagi. Menatapnya lewat layar ponsel membuat kami tertawa. Mengapa? Ia kadang konyol, namun ia cerdas sebagai pribadi pembelajar. Kecerdasannya tercermin dari jok-joke ringan yang selalu meluncur dari lisannya. Kata para ahli, salah satu ciri orang yang cerdas adalah mereka yang punya rasa humor yang tinggi. Ia sepertinya tak pernah kehabisan kata dan ide jika obrolan kami telah penuh dengan candaan.

Tak pernah ia mengeluh dengan keadaannya. Satu hal yang sangat salut dan sulit dipercaya, ia selalu berbagi dengan sesama. Tidak pernah pelit jika ada rejeki, tak pernah itungan ketika berbelanja. Banyak belajar darinya tentang arti ketulusan. Pernah ia mengkhawatirkan keadaan seorang anak didik yang hanya dirawat oleh neneknya di rumah yang tak layak huni bagi sebagian besar manusia. Sering melihatnya memberi uang jajan atau ongkos untuk anak didik tersebut. Haru, dengan keadaannya ia masih mampu berbagi. Itu yang menjadikan hati ini lunak untuk selalu berbagi dengan sesama tanpa harus berhitung dan dihitung. Satu hal yang selalu dipanjatkan untuknya, agar Allah berkenan mengutus hamba-Nya yang saleh untuk jadi pendamping hidupnya.
Perempuan ketiga adalah perempuan modis. Ah, kalau ini penyuka India yang bisa dikatakan fanatik. Wajahnya pun mirip salah satu pemain Bollywood yang terkenal. Karena itu kadang ia kupanggil Sri Devi. Kecintaan terhadap India terlihat dari lagu yang ia putar kala mengerjakan sesuatu di komputer jinjing. Kadang merasa risi, hahaha... karena penulisa bukanlah penikmat lagu apalagi film India. Cantik wajahnya selalu berserasi dengan assessoris dan pakain yang dipakai. Masalah barang branded, ia bisa jadi acuannya, mulai dari tas, jam tangan, dompet, sampai sepatu. Dengan keadaannya seperti itu, ia pun menjadi salah satu kawan yang dermawan, senang berbagi, apa pun itu. Soal makanan sih, sudah tak berbilang, malah ia suka menjajani kami kudapan saat istirahat. Pribadi yang mau belajar, tak malu bertanya, saat ditegur suatu hal pun berhati lebar dan berpikiran positif.
Ah, bercerita tentang kalian jadi sedih. Haru, dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki selalu menjadi pelengkap dan pemanis kehidupan yang dijajaki. Ciamis, Salau, Cikunir, Singaparna teramu jadi satu, seolah tak rela jika satu sama lain terurai. Lama mungkin kita akan jumpa lagi, tapi hati tetap menyisakan ruang untuk mengingat kalian. Semoga wabah ini cepat berlalu dan kita bisa bersua dengan apa adanya kita dahulu. Berteman, berkawan, bersahabat, bersenda gurau, serta berbagi. Satu yang selalu kupanjatkan agar kalian beserta kawan yang lain selalu sehat wal afiat dan diberkahi. Maafkan salah yang pernah terjadi, masuki Ramadhan dengan jernih hati. Semoga selepas Idul Fitri kita akan bersama lagi berbagi kembali, amin.

A_Kar
Singaparna, 17 Maret 2020
#harikeduaimbascorona

Selasa, 17 Maret 2020

Tugas Pertama


Santai di masa efektif belajar di sekolah itu luar biasa. Biasanya di pagi hari sudah tersibukkan dengan pola beres-beres, sarapan, dan berangkat ke tempat tugas. Kali ini lain, pukul 06.30an menjelang pukul 07.00 waktu masuk sekolah tak ada kegiatan berarti. Masih dengan baju rumahan, bisa santai sejenak tanpa harus rusuh dan ribut menyiapkan diri untuk berangkat pagi.
Sejenak bisa menghirup napas bebas di pagi hari. Menjelang pukul 7 bersiap untuk menjalankan proses belajar mengajar dalam jaringan. Membuka aplikasi perpesanan WA, mencari kontak anak didik yang bisa dipercaya, lalu menulis pesan mengenai tugas yang harus dilakukan. Hari ini Selasa, mengajar di satu tingkat, kelas X saja. Namun, hari Senin lalu di tengah kegalauan yang tak menentu, kelas yang seharusnya diisi luput dari perhatian. Jadilah hari ini mengirimkan pesan kedua tingkat rombongan belajar, kelas X dan XI. Ke tingkat X adalah memenuhi pelajaran hari ini, ke tingkat XI dalam rangka menunaikan tugas hari Senin yang bolong.
Masih ingat apa yang harus disampaikan di kelas XI kemarin, sebuah bacaan. Ya, dari sana tugas ini akan bermula. Masih segar di pelupuk saat memberikan sebuah buku paket pada salah seorang siswi. Perintah pun diberikan. Memotokopi beberapa lembar halaman sebuah bacaan, berikut latihannya. Teks wacana tulisan, begitu tepatnya. Terbayang jelas di mata bagian teks tersebut dalam sebuah buku paket bahasa Arab untuk kelas XI Madrasah Aliyah. Teks tersebut terbagi dari 4 bagian bacaan. Dua bagian terletak di halaman kanan di buku tersebut, dua bagian lagi di halaman sebelah kirinya.
Seperti biasa, dalam pembelajaran sebuah bacaan kompetensi yang diminta adalah memahami sebuah bacaan. Langkah awal untuk memahami suatu wacana berbahasa asing tentu harus mengetahui makna kosakata terlebih dahulu. Seluruh teks wacana lisan maupun tulisan, selalu didahului oleh pemahaman makna kosakata. Di buku paket yang dipergunakan sehari-hari, hal tersebut tertuang dalam sebuah materi al-mufradāt wa al-`ibārāt, kosakata dan ungkapan. Masuk ke bahasan tersebut, diawali oleh metode dengar dan ucap ulang. Guru mengucapkan mufradāt dan `ibārāt dengan suara lantang, jelas, dan fasih. Para peserta didik mendengar dengan seksama setiap kata dan ungkapan yang dibacakan pengajar. Keterampilan menyimak yang menjadi salah satu keterampilan berbahasa pertama, ada di sini. Setelah tuntas diperdengarkan kepada para peserta didik, maka giliran peserta didik melafalkan apa yang didengar dari lisan pengajar. Ucap ulang, begitulah metode ini dinamakan, sam`iyyah syafawiyyah, begitu bahasa Arab menerjemahkannya.
Mulai dari sini, akan muncul beberapa pertanyaan mengenai mufradāt dan `ibārāt yang tidak diketahui maknanya oleh peserta didik. Pertanyaan yang sama sekali belum pernah hadir dalam suasana belajar mengajar mufradāt dan `ibārāt akan mendapatkan jawaban saat itu juga. Namun, bagi beberapa mufradāt dan `ibārāt yang belum pernah disampaikan atau beberapa mufradāt dan `ibārāt yang pernah disajikan dalam bentuk derivasi lain, akan menemui titian ingatan yang khusus terlebih dahulu.
Dari sinilah tugas itu bermula. Setelah menyelesaikan arti kosakata dan ungkapan yang ada di setiap awal bab baru, memahami wacana teks tulisan pun dimulai. Namun, sangat disayangkan, ketika pemahaman teks ini akan dimulai, edaran untuk belajar di rumah pun datang. Maka, jadilah tahap awal memahami teks ini sebagai tugas pertama pembelajaran daring untuk kelas XI. Tahapan pun dimulai, anak didik ditugaskan untuk membaca teks di rumah masing-masing setelah itu menandai kosakata asing yang terdapat dalam teks. Mengapa itu dilakukan lagi? Karena kosakata yang ada dalam daftar al-mufradāt wa al-`ibārāt tidak mewakili seluruh kosakata yang anak didik anggap susah. Jadilah penelusuran ini menjadi tugas pertama belajar dari rumah selama tanggap bencana covid-19. 


A_Kar
Singaparna, 16 Maret 2020
#haripertamaimbascorona

Senin, 16 Maret 2020

Sepi yang Kan Menunggu


Hari ini adalah salah satu hari tergalau. Surat edaran yang menyatakan bahwa mulai saat ini seluruh KBM dan PBM dialihkan ke rumah menjadikan warga belajar di sekolah kami tidak karuan. Antara menyeimbangkan diri dengan anjuran kemendikbud atau ikut aturan yang dikeluarkan oleh kepala kantor kemenag kabupaten tempat para pengajar mengembalikan hal kedinasan. Sambil memantau keadaan lewat whatsapp grup, akhirnya memutuskan diri berangkat ke sekolah sambil menunggu dan memperbarui informasi kedinasan dari sekolah.
Tampak sebagian besar anak didik telah menjaga diri dan jarak untuk tidak ke sekolah. Terlihat hanya beberapa orang yang lalu lalang di sekolah, padahal hari ini hari Senin. Pemberitahuan pemerintah untuk merumahkan kegiatan belajar mengajar, telah sampai juga di hadapan mereka. Walhasil, hanya sekian persen anak didik yang masih setia untuk melangkah ke sekolah.
Beberapa hari dan malam yang lalu memang ada beberapa anak didik dan sebagian orang tua/wali yang mengontak lewat aplikasi whatsapp. Semua menanyakan keberadaan dan kebenaran hari ini untuk di rumah saja. Padahal, jawaban yang diberikan adalah untuk tetap hadir di sekolah, sampai pihak sekolah memberikan surat resmi terkait pengalihan tempat belajar ini karena pandemi covid-19. Ah, nyatanya mereka telah mengambil langkah awal yang jitu. Sehingga para pengajar pun hanya tinggal mengatur dan memberi arahan tentang keputusan pemerintah ini. Tak sekedar itu, memahamkan mereka akan arti belajar dari rumah lebih ditekankan. Hal ini perlu disampaikan agar pesan pemerintah untuk meminimalkan pemutusan penularan covid-19 ini efisien terlaksanakan.
Semua benak yang ada dalam ruangan guru pun tercenung. Beberapa anak didik yang tak hadir hari ini, tidak bisa memberikan para pengajar tatap muka dahulu. Siapa yang akan menyangka jika beberapa hari yang telah berlalu di bulan ini merupakan jumpa akhir yang tak pernah dikira. Itu yang ada di pikiran para pengajar saat itu. Pesan jaga kesehatan, atur pola makan, istirahat, dan gerak menjadi pesan inti wejangan hari ini. Terselip salam dari seluruh civitas bagi orang tua/wali masing-masing anak didik.
Sekolah pun sepi sebelum waktu biasa harus membubarkan diri. Suasana menjadi lain karena di balik semua itu ada kecemasan di masing-masing pikiran. Seperti apa pandemi nanti melanjutkan kisah hidup masing-masing. Ia mulai memberi jarak antara anak-anak dengan sekolah, teman, dan guru. Ia pun telah memberikan spasi fisik antara para staf pengajar, karywan, dan seluruh tenaga kependidikan. Ia telah memberikan peringatan dini untuk tetap waspada pada penularannya yang begitu dahsyat. Ia memberikan pesan untuk bisa berdiam diri menerima kenyataan untuk diam di rumah. Ia pun telah melemparkan beribu tanya akan sampai kapan ini akan seperti ini.
Kesempatan pun saat itu menjadikan bimbang dengan berderet pertanyaan. Selanjutnya akan apa dan bagaimana. Belum terbayang menuntaskan seluruh rangkaian program kerja yang telah disusun di awal tahun. Rangkaian penerimaan peserta didik baru, kegiatan penyegaran para pendidik dan tenaga kependidikan, Ujian Akhir kelas XII dan sebagainya. Bisa jadi tertunda, dengan pertanyaan bawaan, sampai kapan? Atau tidak akan ada sama sekali dengan pertanyaan dialihgantikan oleh apa? Jawaban prediksi sesaat belum muncul.
Teringat teman-teman yang tidak memiliki jadwal hari Senin. Entah kapan lagi bisa bertemu. Tidak sempat menuntaskan cerita yang tertunda di pekan lalu. Entah ceritanya nanti akan jadi basi, kadaluarsa, atau malah menghilang sama sekali. Harus memenggal kenangan sesaat rupanya. Biasanya ruangan ini akan penuh riuh dan pikuk, canda dan tawa, apalagi jika jam istirahat tiba. Segala aktivitas muncul di dua puluh menit durasi istirahat yang ada. Cerita anak didik yang dibawa dari kelas sampai pilihan panganan untuk isi perut kala rehat berlangsung. Semua akan mengisi ruangan ini dengan riuh rendah. Sekelebat terbayang acara makan-makan dengan menu yang dibawa dari rumah masing-masing. Mengingatnya kembali akan jadi isi kepala di beberapa hari mendatang.
Akhrinya, para pengajar pun kembali ke rumah masing-masing lebih awal. Perbincangan kehampaan muncul menyikapi situasi yang akan dihadapi ke depan. Namun, harapan harus selalu ada. Jika para guru sang pengajar pelajaran dan pendidik pekerti kehilangan asa, apatah yang akan terjadi pada anak didik? Minimal harapan masih bisa bersua kembali seperti rajutan kenangan di masa yang telah dilalui maksimal wabah corona ini semoga cepat berlalu. Berganti dengan kehidupan yang baru penuh ceria, berbekal pengalaman di masa wabah seperti ini. Sebuah mimpi membentuk tatanan baru dari sebuah peristiwa menjadi hikmah yang didambakan dan semoga terwujud.