Senin, 30 Mei 2016

Program Kerja Keputrian SMA MUDASPA

PROGRAM KERJA
KEPUTRIAN SMA MUHAMMADIYAH
dengan
PIMPINAN CABANG NASYIATUL AISYIYAH SINGAPARNA



https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTS6jb-TDyFNrZTeiTF9pZN5KfgLb-_T5uQoUsmra9JWJyWjle-





SMA MUHAMMADIYAH SINGAPARNA
Jl. Muhammadiyah Cikedokan Singaparna Tasikmalaya 46411
Telp. 0265-545331


 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Kegiatan
           Perkembangan zaman dan budaya yang ada secara tak sengaja dan perlahan berpengaruh pada kondisi muslimah saat ini. Hal ini berdampak pada pola pikir yang tercermin dalam perilaku bahkan pada pilihan ideologi hidup. Kondisi yang sering ditemui saat ini adalah menganggap benar suatu yang salah. Isu-isu yang berkembang berkaitan dengan kewanitaan, seperti feminisme, dan lain-lain, muncul kepermukaan, yang justru hal tersebut banyak menjadikan seorang muslimah keluar dari fitrahnya. Hal ini memerlukan penyikapan yang serius dalam rangka mewujudkan kondisi 'ideal' bagi msulimah sendiri maupun bagi lingkungan muslimah di mana ia tinggal. 
       Hal tersebut di atas tidak luput dari perhatian Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) sebagai organisasi otonom yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan keputrian. Tugas apa pun yang diemban NA tetap mengedepankan gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar seperti yang diamanatkan oleh Muhammadiyah. Tugas luhur ini dilakukan baik secara kolektif organisasional maupun secara individu oleh personil-personil NA. 
           Dalam mengemban tugas luhur tersebut, NA sebagai gerakan putri Islam mempunyai beberapa capaian untuk memuluskan tujuan tersebut. Capain program jangka panjang NA mempunyai tujuan untuk “… membentuk pribadi putri Islam yang berarti bagi agama, bangsa, dan negara menuju terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT” (Keputusan Musyawarah Nasional PP. Nasyiatul ‘Aisyiyah II, 1995, p. 13).
        Salah satu cara untuk mewujudkan tujuan jangka panjang di atas maka NA membentuk program Dakwah Terpadu NA, berupa: Bina Remaja Putri. Bina Remaja Putri yaitu pembinaan yang khusus diberikan kepada para remaja putri Islam di semua lapisan masyarakat. Dakwah ini berupa bimbingan keagamaan, kesadaran hukum, partisipasi politik, dan keterampilan wanita dalam rangka pengembangan potensi dan sumber daya remaja putri Islam.
        Sasaran pembinaan remaja putri yang paling mudah adalah membidik para siswa yang belajar di sekolah/madrasah Muhammadiyah. Keberadaan sekolah merupakan tempat strategis untuk melaksanakan amanat umat dan mewujudkan tujuan. Kerja sama yang baik dengan pimpinan AUM pendidikan akan membuka lebar keberhasilan program yang mulia ini. Melalui kegiatan keputrian yang melibatkan IPMAWATI SMA Muhammadiyah Singaparna, PCNA Singaparna berusaha mengembalikan fitrah muslimah secara utuh dengan menanamkan nilai-nilai keIslaman yang terpadu dalam berbagai macam bentuk kegiatan sehingga bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

B. Landasan
1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya:
“Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”. (an-Nisa’: 9)
2. Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam,
عَلِّمُوْا اَوْلاَدَكُمْ فَإِنّهُمْ سَيَعِيْشُ فِى زَمَانِهِمْ غَيْرَ زَمَانِكُمْ فَإِنَّهُمْ خَلَقَ لِزَمَانِهِمْ وَنحَنْ ُخَلَقْنَا لِزَمَانِنَا
Artinya:
“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”
3. Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam,
من كان له ابنتان فأحسن إليهما كن له سترا من النار
Artinya:
"Siapa yang memiliki dua anak perempuan dan berbuat baik kepada keduanya, maka keduanya akan menjadi penghalangnya dari neraka."

C.   Tujuan dan Sasaran
1.    Tujuan
a.    Memberi bekal awal pada siswi SMA Muhammadiyah pengetahuan dasar keislaman dalam bidang kajian remaja putri
b.    Mempersiapkan calon alumni Muhammadiyah dengan pemahaman keislaman tentang remaja
c.    Memperkenalkan Nasyiatul Aisyiyah sebagai ortom putri di persyarikatan Muhammadiyah
  1. Sasaran
a.    Seluruh siswi SMA Muhammadiyah Singaparna Kab. Tasikmalaya




BAB II
PROGRAM KERJA

A.    Dasar pemikiran
            Sebuah bentuk kegiatan memerlukan perencanaan yang matang agar bisa berjalan secara optimal dan maksimal. Perencanaan yang matang diharapkan mampu memberikan pengaruh yang sangat baik bagi pelaksana maupun peserta kegiatan. Penyusunan program kerja ini disesuaikan dengan minat serta kebutuhan peserta kegiatan yang dilakukan melalui penjajakan awal sebelum kegiatan keputrian dilaksanakan bekerja sama dengan IPMAWATI SMA Muhammadiyah dan Departemen Kajian Dakwah Islam IPM SMA Muhammadiyah. Hal ini dilakukan sebagai strategi menarik minat peserta juga agar seluruh rangkaian kegiatan mempunyai dampak positif dan mendalam.

B.   Program Kerja
            Kegiatan ini dibagi dalam beberapa materi. Materi-materi tersebut disampaikan dalam beragam pokok bahasan. Pemilihan pokok bahasa disesuaikan dengan kebutuhan serta kompetensi yang harus diketahui dan dimiliki remaja putri sesuai dengan jenjang tingkatan.
            Pemateri yang dihadirkan adalah para kader NA. Pemateri ahli dihadirkan jika pokok bahasan menuntut adanya seorang ahli atau praktisi yang kompeten di bidangnya. Rangkaian materi tersebut lebih jelas dipaparkan sebagai berikut:
No
Materi
Pokok Bahasan
Kegiatan
Penanggung Jawab
1
Keislaman
a.    Aqidah/tauhid
b.    Syariah/fiqih ibadah
c.    Ke-NA-an
a.    Ceramah
b.    Diskusi
St. Khairiyah Mudawwamah
2
Seputar Remaja
a.    Pergaulan remaja
b.    Kesehatan remaja putri
c.    Komunikasi antar generasi
a.    Ceramah
b.    Diskusi
Ade Kartini
3
Keterampilan
a.    Kerajinan kain flanel
b.    Diskusi
c.    Praktik
Nurul Meka Medina
4
Penyegaran/having fun
a.    Sejarah Islam dan keislaman
b.    Tokoh-tokoh inspiratif
a.    Pemutaran film


St. Fauziyyah

C.   Jadwal Kegiatan
            Materi-materi tersebut diberikan setiap bulan pada seluruh tingkatan dengan waktu yang berbeda dan tempat yang terpisah. Hal ini dilakukan agar terdapat pemerataan materi di setiap tingkat. Pelaksanaan program di atas kemudian dijabarkan dengan jadwal sebagai berikut:
No
Waktu
Tingkatan
Tempat
Kelas X
Kelas XI
Kelas XII
1
Pekan pertama
Keislaman
Remaja
Keterampilan
Ruang kelas
2
Pekan kedua
Keterampilan
Keislaman
Remaja
Ruang kelas
3
Pekan ketiga
Remaja
Keterampilan
Keislaman
Ruang kelas
4
Pekan kempat
Nonton Bareng
Aula SMA




BAB III
PENUTUP

            Program kerja ini dibuat sebagai acuan dasar dalam menjalankan kegiatan keputrian di SMA Muhammadiyah Singaparna Kab. Tasikmalaya. Program kegiatan keputrian ini akan berjalan dengan lancar dan tertib apabila dilaksanakan sesuai perencanaan yang telah disusun. Manusia hanya mampu berencana, semua ketentuan dan ketetapan adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala.
            Seluruh salah dan khilaf mohon dimaafkan. Hanya kepada Allah-lah kita kembali dan hanya kepada-Nya lah kita memohon petunjuk.
            Al-birru manittaqa.






















Selasa, 10 Mei 2016

Terima Kasih, Teman.

Berawal dari jejaring sosial yang diciptakan Mark Juckerberg, kami sekelompok anak manusia yang sama-sama pernah merasakan indahnya masa sekolah dasar, rentang masa yang sangat lama, kurang lebih dua puluh tahun, mampu menyisakan dan membuat kembali segar rangkaian kenangan kami dulu ketika berseragam putih merah. Canda tawa kami di masa lalu, ternyata masih menyisakan banyak tempat dan waktu untuk berbagi, mungkin lebih dari yang sekedar kami pikirkan awalnya. Berbagi canda, tawa, kisah, baik suka maupun duka, apalagi bagi yang sudah berkeluarga dan mempunyai momongan ada hal lain, yaitu bershilaturahmi dengan anggota keluarga lain, dan tentunya berbagi kembali cerita. Tampaknya akan tambah panjang kotak cerita dan kisah kami, karena dari beberapa teman yang selama ini eksis hadir dalam beberapa pertemuan, ada yang sudah menjadi saudara, ada juga tali pertemanan satu sama lain di masa lalu di jenjang sekolah yang berbeda.

Dari sekian banyak cerita yang terpapar dalam pertemuan-pertemuan kami, meluncurlah berbagai varian cerita, cerita suka, banyak, karena kami bisa menahan pipi kami masing-masing sepanjang pertemuan karena ocehan dan canda tawa kami yang mungkin tak kan pernah habis karena masing-masing lisan kami punya aneka guyonan dan tingkah yang berbeda-beda. Namun di balik semua canda tawa kami, di antara cerita dan kisah kami, ternyata tidak semua hal yang ada bernada riang dan suka, di antara semua itu terselip kisah-kisah kami yang lain, kisah yang mungkin setiap orang akan berkata, "Ternyata masih ada yang punya kisah lebih tragis daripada yang saya alami", atau "Ternyata ada lagi yang lebih sedih daripada saya kisah hidupnya". itulah dunia, kita masing-masing akan selalu bertanya ketika Allah menguji kita, "Ya Allah, mengapa Kau timpakan ini kepada kami?", atau "Mengapa hal ini harus terjadi pada kami?" atau pertanyaan lainnya yang bernada seakan mengadili keadilan Tuhan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Dari beberapa cerita teman saya tadi, menyisakan hikmah yang sangat mendalam dalam diri dan hati saya, ternyata ketika kita melihat diri kita merenungi perjalanan hidup kita, seakan kitalah orang satu-satunya di muka bumi ini yang belum dikaruniasi nasib mujur atau nasib hidup yang lebih beruntung dari yang kita jalani sekarang ini. Secara sadar atau tidak, kita pernah mendengar atau mengeluarkan ungkapan, "Kamu mah dah enak, dah jadi PNS, punya gaji bulanan, ada dana pensiun lagi", atau kilahan teman kita yang jadi PNS kepada teman pengusaha, "kamu atuh yang enak mah, dapet uangnya tiap hari, kita mah cuma sebulan sekali, itu pun cuma numpang lewat doang", dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan yang seakan-akan apa yang sedang kita jalani saat ini tidak seberuntung teman kita yang lain jalani. Kalau mungkin diibaratkan dalam peribahasa, rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Itu kalau ukurannya hanya duniawi dan pandangan hidup yang sempit. Padahal masih banyak teman-teman lain yang hidupnya belum seberuntung dengan apa yang kita jalani saat ini. Inilah mungkin yang dikatakan sebagai salah satu berkah dari shilaturahmi, memanjangkan usia, tidak hanya ditilik dari arti harfiah saja, dengan harapan bisa memperpanjang "jatah hidup" di dunia namun dalam arti yang saya buat sendiri, memberikan makna hidup lebih luas dan berarti, banyak benarnya, karena saya pikir ketika seseorang terus berpikir bahwa hidup kita merasa tidak seberuntung orang lain, kita akan merasakan hidup ini sempit, sesak, tak ada harapan dan berujung putus asa menghadapi hidup selanjutnya, tapi ketika kita banyak bershilaturahmi, banyak mendengar, banyak berbagi, kita akan merasakan hal yang seperti saya ungkapkan tadi, "masih ada ternyata orang yang kehidupannya belum seberuntung yang saya alami saat ini", atau "Alhamdulillah, saya mah teu kitu-kitu teuing", hal tersebut bisa membuat kita tambah bersukur terhadap apa yang Allah anugerakan pada kita, memaknai hidup lebih positif, dan memandang hidup ke depan dengan lebih optimis.

Bercerita, berbagi, mendengarkan kisah teman dengan rasa simpati dan empati adalah respon anak manusia di muka bumi ini demi menyikapi hal yang mungkin tidak positif di mata sebagian orang, ketidakberuntungan mendapatkan pasangan hidup yang betul-betul didambakan, ekonomi keluarga yang belum beranjak menuju cukup atau sejahtera, beban ekonomi dan psikologi ketika fungsi pasangan hidup kita tidak optimal dan lain sebagainya , merupakan kisah-kisah yang sudah banyak kita lihat dan saksikan di cerita-cerita film atau sinetron televisi, kisah yang bisa kita baca di media cetak atau kita dengar dari radio. Namun ketika kisah tersebut tertutur di hadapan kita dari lisan teman kita sendiri, dipastikan respon kita akan lain, ada rasa ingin berbagi, mengisi, menguatkan dan memotivasi sampai menunjukkan hikmah dari segala bentuk kejadian yang telah dipilihkan oleh Sang Maha Pencipta. Respon inilah yang tak kan tergantikan apalagi bila kita telah mengetahui kondisi teman kita sebelumnya kita akan tambahkan hal tadi dengan untaian mutiara doa yang kita panjatkan pada sang Kholiq. Sebuah hubungan memang bisa menjadikan yang jauh menjadi mendekat atau yang dekat menjadi jauh, namun saya tidak akan memilih opsi yang kedua dan saya memiliki opsi yang lain yaitu menjadikan yang dekat lebih peduli dan mampu berempati. Hubungan inilah yang tak kan tergantikan, hubungan saling peduli dan empati satu sama lain. Maka, apapun yang terjadi teman, itulah hal yang terbaik yang Allah pilihkan kepada kita. Puzzle kehidupan kita sudah disediakan oleh Nya. Tugas kita hanyalah menyusun dan mengatur puzzle tersebut dengan rapi dan benar walau gambar dari puzzle tersebut adalah gambar yang tidak kita inginkan. Percayalah, dengan episode kehidupan yang telah Allah pilihkan untuk kita. Dan sebaliknya giliran kita untuk mampu memilih segala sesuatu yang terbaik yang dapat kita persembahkan untuk Sang Maha Pemberi Kehidupan. Terima kasih, teman. Segala cerita kalian inspirasi bagi saya dan kehidupan. 

Senin, 04 Januari 2016

Alun-alun, ketika hujan turun


            Satu dua satu dua, langkahnya kecil-kecil namun cepat, sampai kaki ini pun tak pernah bisa melampauinya.
“Ini makanan anak-anak, ini makanan mentah-mentah, naaach… ini susu”, ungkapnya riang, sambil menunjuk rak yang berderet rapi susu uht berbagai merk nan warna warni
“Aku bawa segini aja”, ia pun membawa satu kotak kecil
“Kok cuma satu yangm buat rifki mana..?”, tanyaku menguji.
“Ya, udah dua…”, sambil mencoba menghitung dengan jari tak berdosanya.
“Kok gak pilih yg besar…?” tanyaku mulai cerewet khas ibu-ibu.
“Udah ini aja…..,” tukasnya.
“Ambil yang lain atuh…,” mulai dech ni perintah ibu-ibu.
“Ni.. yg biru…,” serunya sambil memperlihatkan gigi susunya yang rapi bersih berbaris tanpa cacat dan celah.

            Akhirnya terkumpul susu uht anak-anak berbagai rasa dalam kemasan kecil dan sedang.
“Makanannya mau tambah lagi nggak..?,” cerewet ibu-ibu mulai diperdengarkan lagi dengan beban memaksa.
“Udah… ,” memelas ia menjawab.
“Buat yang lain mana…?,” tanyaku mulai lagi ibarat polisi India yang ada di film-film tv swasta tanah air.
“Ini udah, buat aa, kakak, rifki….,” satu-satu ia singkapkan makanan yang yang sudah ia pilih dan ia masukkan sendiri ke keranjang merah yang ku tenteng.
“Ambil bungkusan gede Yang…,” keluar pula akirnya panggilan sayangku padanya, kali ini gaya memaksaku sudah pada tingkat internasional. Akhirnya ia pun sibuk memilih kembali makanan ringan dengan bungkus sedang.
“Waaah… jd banyak nich makannya…,” demi melihat isi keranjang saat itu.
“Gak apa-apa, kan buat dibagi….,” ungkapku dengan nada sok menenangkan.

            Tak ada permintaan lagi dari mulut mungilnya. Akhirnya ia pun meluncurkan kata-kata pamungkas, “udach ah…., “ sambil mengarahkan langkahnya ke tempat kasir
“Ech, iya, Yayang kan suka coklat, gak ada coklat yg diambil Yang…?,”
Akhirnya ia pun memilih beberapa coklat yang ia mau. Ada bungkus kecil, bungkus sedang, dan besar.
“Yang, ini kan udah ada.” Unjukku ke salah satu kemasan coklat.
“E.. ini kan beda inikan T-P…”, tukasnya cerdas menyentak pikiran kiniku. Ooww… aku baru tersadar kalau mungilku sudah besar dan sudah bisa membaca walau usianya belum mencapai usia sekolah dasar.
“Hmm… kira-kira hal apa yang menarik yang bisa diajarkan ya…,” pikirku. Harus ada nilai yang harus ku tularkan padanya, demi detik yang  membersamaiku dengannya saat ini, demi jiwaku yang setiap saat mengayun-ayun romannya, demi sebagian darahku yang mengalir di nadinya, dan demi hati, rasa, asa, dan esok hari yang hanya penuh dengan harap dan doa. Yup… tring… akhirnya ku dapat ide mendadak…
“Yang… yuk kita cari logo halal MUI-nya yuukk….”
Mungilku antusias, aku tunjukkan satu kemasan makanan ringan dengan logo halal MUI. Baru satu, dia langsung mengambil makanan lain yang ada di keranjang belanjaan. Dengan cekatan dan tepat dia langsung tunjukkan logo halal MUI di tiap kemasan. Dia nampak senang… karena logo halal memang harus jeli mencarinya, ia tak tersembunyi, namun tak tampak terlihat jelas, kadang di bawah kemasan, kadang di sudut kemasan, kadang juga keliru dengan tanda produksi lain dengan tanda lingkaran. Mulailah ku ambil inisiatif menjelaskan fungsi dari logo tersebut, ajiib.. dia langsung paham…
”jadi, ni yang ada di keranjang semua boleh dimakan ya…?” pertanyaan pertama untuk hari ini yang terlontar.
“Betul…”, timpaku, “karena apa..?” kali ini menguji.
“karena ada logo halalnya…”, jawabnya tangkas tanpa jeda.

            Perjalanan menuju kasir pun tersendat. Seperti menemukan mainan baru is pun menyisir beberapa makanan dan minuman yang terpajang di rak pajangan di swalayan kecil tersebut. Dilihat satu persatu, bila dapat ia akan berkata, “nach… ini boleh…”. Begitu selanjutnya sampai ia mendapatkan minuman energi laki-laki yang tak terdapat logo halal MUI di bagian luar kemasannya. “Yang ini gak ada…”. Sambil terus membolak-balik bungkus kemasan itu berkali-kali untuk meyakinkan.
“Ya.. udah kalo gak ada…, berarti….” Kalimatku digantung sengaja dengan harapan ada jawaban cemerlang. Betul saja….. ”Gak boleh…” jawaban yang langsung menyambar.

            Asyiknya pada saat itu harus terputus, tak terasa menit demikian terlalu cepat berlalu meninggalkan kami, aku dan mungilku. Suara berat di belakangku menyadarkanku untuk dapat mengatasi keadaan pasarah untuk beberapa menit kemudian.
“Yuk.. udah yuk…”. Kalimat pertama hari itu keluar dari saura bearat, seakan  memampangkan dan menabuh serta membunyikan alarm kesadarnku. Langkahku pun ke kasir, tak ada yang mampu menanhan episode saat itu, semua harus berjalan seperti biasa, tak ada apa-apa, dan kan biasa kembali.

            Isi keranjang pun berpindah tempat ke sebuah tas palstik putih. Melalui layar monitor terpampang harga setiap kemasan yang dipindai dari alat yang pintar mampu membaca kode batang.
“Ini boleh…..” pandanganku pun berlaih pula ke tangan mungil yang memegang sebatang coklat yang teronggok di meja kasir.
“O.. iyaa…,” perhatianku pun beralih dan tak peduli dengan nominal yang kan ku tukar dengan barang konsumsi yang ada di keranajng merah tadi.
Sebuah kemasan yang nampaknya selai strawberry dekat dengan monitor kasir tak luput dari perhatiannya. Setengah kepala mungil itu pun mendongak demi melihat yang tak nampak di atasnya logo halal MUI, sambil berujar “nach… ini gak boleh…”. Ungkapan singkatannya mengagetkan penghitung belanjaan kami.
“Ada apa gak boleh…?”. Dua bola beningnya menatapku, meminta tolong menjlaskan pada orang dewasa berseragam itu.
“Ini… selai strawberrynya tak ada logo halal MUI jadi tidak bisa dikonsumsi bila tidak yakin halal…”. Penjaga kasir pun anmpaknya puas dengan jawaban tersebut, tampak bibirnya tersenyum wlau tatap matanya tak beralih dari layar monitor dan keyboard. Mungilku pun tersenyyum… dan nampaknya ia pun puas dengan bantuan jawaban tadi.

            Detik-detik kemudian setelah itu terasa berat. Tas plastik putih itu berlaih tangan. Isi tas plastik yang penuuh dengan kecintaan, kerinduaan, dan kalau boleh diungkapkan, kepiluan….

            Alun-alun di sore itu, hiruk pikuknya tak tampak lagi, semua seperti menguning, bak kaos kuning yang ia kenakan. Alun-alun sore itu, selepas asar, memang mendung, awan memang telah menyambut akhir hari sejak kami masuk swlayan kecil ini. Doa, pelukan, dan ciuman, merupakan bekal akhir dari semua bekal yang ada setelah isi tas plastik itu. Ubun-ubunya menjadi pendaratan terakir semua harapan, doa , dan cinta. Nampak tergeret, tergusur, terpaksa, dan kaku, beriring kepala mungil yang masih menoleh ke belakang, meninggalkanku, membiarkan membuka kunci kontak beatku. Ku berpaling, ku biarkan, ku pasrah, sebelum semua basah, basah karena butiran hujan pun saat itu sama berjanji untuk menggauli alun-alun. Di depan sebuah mini swalayan, ku bairkan piluku ke awan, bersama hujan yang menetes deras mengikuti irama lirih sengguk dada dan lelehan air mata. Singaparna, di sebuah alun-alun, ketika hujan turun.