Minggu, 03 November 2019

Seluruh Tugas Memunyai Cara untuk Diselesaikan



Pesanku bara saja dibacanya. Entahlah akan samppai kapan pekerjaan ini selesai. Malam mulai merangkak memasuki hari Senin. Lampiran untuk laporan belum kelar. Tinggal data beberapa daerah yang belum masuk. Sebelum berangkat ke tanah Sriwijaya semua harus sudah diunggak ke laman panitia yang sejak dari awal event ini dibuka alamatnya sudah disebarluaskan.

Waduh, teringat buku antologi puisi yang harus dibawa serta ke sana. Belum ada kabar lagi sampai saat ini. Beberapa dokumen yang harus dibawa nanti saat acara sudah dipesankan dan harus dibawa peserta yang berangkat dari kota Bandung.

Tiket, pemberangkatan sudah selesai dibahas. Tinggal satu yang belum terkait akomodasi yaitu transit setibanya di tanah jembatan ampera. Daftar barang bawaan sudah disusun rapi, tinggal packing. Esok hari Senin, semua dokumen yang dibutuhkan panitia harus sudah diunggah. Tak akan gelisah bagaimana caranya untuk menyelesaikan lampiran laporan data pimpinan dan amal usaha beberapa daerah lagi di Jawa Barat. Yakin, penyelesaiannya akan menemukan jalan tersendiri, selama berusaha dan berupaya semaksimal dan seoptimal mungkin.

Segala sesuatu yang diupayakan dengan maksimal, ia akan menemukan jalannya untuk diselesaikan. Walaupun kadang ragu, dan rasa ketidaksempurnaan dalam menyusunnya selalu menyergap pikiran. Hal tersebut tak membuat langkah jadi surut. Karena kualitas dari apa yang dikerjakan salah satunya dipengaruhi oleh pikiran ketika menyelesaikan suatu pekerjaan.

Waktu yang mendekati batas akhir pengiriman dokumen ini semakin dekat. Terbersit untuk mengambil alih secepatnya pendataan yang belum lengkap. Bukan tidak terbersit dari awal untuk mengambil langkah tersebut. Hal itu tak dilakukan untuk menghindari tertumpuknya pesan dari dua orang secara berturutan. Khawatir hal itu akan membingungkan beberapa orang yang dikirimi pesan. Tapi biarlah, injure time, hal itu akan dilakukan secepatnya. Yang penting, tugas ini harus selesai sebelum waktu yang telah ditetapkan. Detik ini akan dimulai mengerjakan sisa data yang tertunda walau itu merupakan tugas dan wewenang yang lain. Demi, ketepatan waktu yang telah dilakukan, ini harus dieksekusi. Semoga Senin malam semua bisa diselesaikan semua. Lalu terbang ke tanah andalas dengan membawa hati yang ringan. Segala sesuatu akan menemukan cara untuk diselesaikan. Bismillah.


#30dwc
#30dwcjilid20day18
#30dwcjilid20squad1

Sabtu, 02 November 2019

Sabna Varascara


Malam mulai terus menanjak. Masih terdengar rintik air menetes dari susunan genting rumah. Suaranya membuat syahdu, melarutkan setiap jiwa yang terlelap karena lelah sepanjang hari. Angin dinginpun turut menemani gerimis ini. Lembut pori-pori ini mengatup, mengusir gigil yang mulai menusuk. Sunyi malam ini. Ku stel televisi yang tadi kaku membisu. Dinyalakan, sebagai teman tanpa tanggapan mengiringi jari jemari ini di atas papan ketik.

Beberapa tugas harus diselesaikan. Data satu provinsi memang belum lengkap, namun bukan berarti hanya bisa berdiam diri. Laporan harus sudah selesai sebelum fajar Senin muncul di ufuk timur. Semua dokumen yang terdiri dari empat bagian harus terunggah sempurna sebelum perhelatan nasional pekan depan digelar. 

Rasa bingung mulai menyergap ketika penanggung jawab data tak  jua membalas pesan yang telah dikirim sejak sore tadi. Terlihat whatsappnya beberapa kali ada dalam jaringan. Namun pesan itu belum terbalas hingga kini. Akhirnya dialihkanlah benak untuk mengerjakan sesuatu yang lain. Kegiatan yang satu bulan ini harus berkesinambungan diselesaikan dengan berteman tenggat waktu.

Mengikuti program ini ternyata punya keasikan tersendiri. Selain tenggat waktu penyerahan tugas, ia memiliki program umpan balik yang tertata apik baik dari anggota peserta program juga dari mentor sekaligus. Program ini memberikan nuansa baru pada pengalaman menulis. Isinya mayoritas anak muda yang bersemangat dalam mengolah pena. Catatan khusus dari program ini adalah pemimpin kelompok kecil yang memimpin perjalanan program agar selalu mulus. Guardian ia dinamakan, dan kelompok kecilnya diberi istilah squad. 

Guardian inilah yang selalu memberikan nuansa lain di 30 hari program ini. Jika bertatap muka dengannya bisa jadi pipinya habis dicubiti. Betapa tidak, ia selalu mengirim pesan pribadi hanya untuk  mengingatkan agar tidak lupa menulis sebelum tenggat waktu yang ditentukan tiba. Jika tidak, maka ia akan memberi semangat agar tekad semua anggota selalu membara. Kalau dibayangkan, bisa jadi ia pemandu sorak yang sangat aktif. Membangun semangat tim, memberi motivasi, mengingatkan tenggat waktu, dan sesekali menyapa manis. Dalam benak, ia tergambar lincah bergerak sambil membawa tutup panci di kedua tangannya lalu dipukulkan satu sama lain sambil berteriak,
“Ayoo Mak… Jangan kasih kendor…!!!”, xixixi… begitu mungkin ya…

Namanya Sabna Varascara, nama yang sedikit asing bagi mayoritas orang Indonesia, apalagi orang Sunda. Sayang, tak bisa menatap wajahnya karena foto profilnya berhalang kain penutup wajah. Usianya nampak masih hijau, namun pengalamannya sudah tak bisa dikatakan baru kemarin sore. Dari umpan balik yang diberikan seorang mentor, tulisannya sudah lebih dari standar. Berarti pengalaman menulisnya telah memiliki jam terbang tinggi. Inilah yang disebut tadi di atas bahwa pengalamannya bukan baru kemarin sore. Tampak di salah satu akun media sosialnya ia kini ada di Taiwan.Tak pernah bertanya, apa, mengapa, dan bagaimana ia sampai di tanah orang bermata sipit. Cukup tahu saja ia ada di sana, belum punya niat untuk menelusurinya lebih jauh. Saat ini cukup mengenalnya lewat pesan-pesan singkat di ruang obrolan whatsapp. Selebihnya, tinggal menunggu waktu akan menuntun sampai di mana.

Suatu saat jika Allah ijinkan, ingin sekali mengenalnya lebih dekat. Tidak hanya ia, tapi anggota squad yang saat ini membersamai kegiatan ini. Barakallah, Sabna, semoga usia dan usahamu berkah, Nak. Tak akan lupa namamu, selain unik, kau pun begitu konsisten memandu, menemani, memimpin kami di squad 1 30 days writing challenge ini. Terimakasih terucap seiring dingin malam dan rintik hujan menjelang tengah kelam menuju dini hari.


#30dwc
#30dwcjilid20day17
#30dwcjilid20squad1
#akarmenulis

Jumat, 01 November 2019

Maut Akan Menjemput Tanpa Membisikkan Sesuatu

Pagi ini rencana meluncur ke Bandung pagi hari sekali, berharap tiba di kampus tidak terlalu siang. Namun, keinginan tadi buyar saat mendapat pesan pribadi teman bahwa dirimu telah tiada. Bagai disambar petir di siang hari, terkejut tak alang kepalang. Tak mendengar kabar dirimu sakit atau menderita apa, itu yang membuat terkejut dengan mata melongo. Akhirnya, dibukalah percakapan WA grup, yakin pasti berita ini bertebaran di dalamya. Benar, ternyata dirimu dikabarkan tak bisa lagi menikmati kefanaan dunia ini bersama lagi.

Lemas tubuh saat itu, tak bisa melakukan apa-apa, hanya terdiam dan terpaku oleh suasana hati. Tak percaya, sama sekali sulit dipercaya. Sambil menyandarkan kepala ke tembok dan terduduk lemas, dibukalah saat itu story WAmu untuk mengetahui kondisi terkahir sebelum ajal menjemputmu. Ternyata, kau masih bisa menikmati konser penyanyi maestro yang terkenal `tahun 90-an di sebuah televisi swasta tanah air. Ada tiga story yang kau unggah, semua pada pukul 21.00-an WIB. Semalaman memang tak sempat buka WA secara leluasa, karena dikejar target menyelesaikan bahan untuk bimbingan hari ini.

Teringat perjumpaan terakhir kita beberapa hari lalu. Saat jam sibuk berangkat sekolah, kau mendapatiku berdiri di pertigaan dekat rumah untuk menghentikan angkutan umum.
“Hei, kok gak pakai motor?”, tanyamu sambil berlalu bersama kendaraan setiamu. Masih tertangkap mata saat itu kau mengenakan jaket merah.
“Iya…”, hanya bisa itu jawaban singkat yang diberikan, karena kau telah berlalu juga dari hadapan melaju di atas roda duamu.
Itu terakhir kali melihatmu. Dan hari-hari yang akan datang, tidak akan pernah melihatmu lagi melintas di depan rumah. Lalu kau akan berteriak sambil melintas dengan kata, “Hai….!” Dan berlalulah dirimu bersama si biru kesayanganmu itu.

Pagi ini, hujan mengiringi kepergianmu. Hujan yang sangat dinanti, hujan perdana di sepanjang kemarau ini. Hujan ini ternyata yang membuat suasana semakin pilu dan sendu. Hujan pagi ini, adalah hujan yang semalam turun dengan deras. Pukul 00.00-an, masih teringat gempita air mengguyur bumi dengan sukacita. Ternyata di saat itu pula kau sedang meregang nyawa. Tak ada yang menyangka bahwa sesak napasmu saat itu, merupakan tanda bahwa kau di ambang sakaratul maut. Kekasih hatimu yang mendampingi hidupmu tiga tahun inipun tak menyadari jika saat itu, ia akan kehilangan separuh napasnya.

Kesedihan menyelimuti kami, sahabat-sahabatmu. Walau tiga tahun terkahir ini kita tak lagi mengabdi di sekolah yang sama, 11 tahun kebersamaan denganmu berhasil menorehkan kenangan yang sangat indah. Semua cerita temanmu berkata, tak akan ada lagi canda tawa, celoteh renyah, candaan riang dari lisanmu. Tak ada lagi ruang guru yang selalu hangat dengan canda tawamu. Dirimu memang selalu ceria, menghangatkan suasana, dan selalu memiliki candaan dan celoteh ringan yang bisa membuat seisi ruangan tertawa. Walau kau menderita asma sejak kecil, kau tak pernah mengeluh dengan kondisi kesehatanmu. Yang kami tahu, kau sosok yang selalu ceria, gembira dan menyenangkan.

Tak akan habis kata menggambarkan dirimu. Berkelebat silih berganti beberapa episode bersamamu. Percakapan terakhir kita sekira tiga pekan lalu, di acara pertemuan seorang tokoh politik nasional Di sana tatap muka kita terakhir kali. Saat kau menemukanku sedang membenahi keperluan acara, kau datang menawarkan bantuan. Tak ada yang diminta darimu, kecuali permintaan mendokumentasikan keberadaan kita saat itu. Kau pun mengeluarkan ponsel dan klik, klik, klik, tiga pose poto terpampang di sana. Itu, poto terkahir kebersamaan kita. Poto yang tak sempat kuunduh, poto yang saat ini hanya bisa kupandangi samar gambarnya.

Ajal memang tak kan mengenal waktu dan tempat. Maka, kita harus bersiap menyambut kepastiannya. Hari ini kau yang dipanggil Sang Khalik, dan kami sedang menunggu gilirannya. Izrail menghampirimu tanpa tanda, tanpa berita, maka kami mendapati pelajaran bahwa maut bisa datang kapan saja. Tak akan terlambat, tak akan menyegera walau sepersejuta detikpun. Ia akan datang sesuai titah Sang Maha Mencipta. Maka, bersiaplah wahai jiwa, karena setiap dari kalian pasti akan dijemput maut.

Kepergianmu, Sahabat, memberikan kami nasihat akan hidup dan usia. Kau yang terlihat sehat dan masih beraktivitas di kamis siang, Allah menjemputmu di malam harinya. Maut menjemputmu tanpa membisikkan sesuatu. Teriring doa dari kami sahabatmu, semoga Allah mengampuni dosamu, melapangkan alam kuburmu, dan menggolongkanmu ke dalam deretan para salihin. Saat tulisan ini selesai ditulis, saat itu pula kurang lebih 12 jam sudah kau tinggalkan alam fana ini.  Hana Agustia Karningsih, S.E., M.M., Allahu yarham.


#30dwc
#30dwcjilid20day16
#30dwcjilid20squad1
#akarmenulis