Rabu, 23 Oktober 2019

Nikmat yang Luput Disyukuri


Betapa banyak hal yang luput dari rasa syukur. Nikmat sehat, waktu, dan kesempatan. Bisa jadi banyak sekali orang yang bermimpi mendapatkan hal yang yang sedang dialami. Walau mereka tak akan tahu bagaimana bertahan di posisi seperti ini.

Orang hanya melihat dari luar saja, betapa enak hidup yang sedang dijalani. Memiliki pekerjaan tetap dan mapan, hidup cukup tak kekurangan, punya banyak waktu berkarya dan bergerak tanpa terganggu oleh celoteh anak-anak serta kesempatan untuk terus menuntut ilmu. Tapi adakah yang berpikir, manjalani ini semua tak lebih enak daripada kehidupan bersama anak-anak, terbatas ruang gerak namun masih tetap bisa menghirup bebas udara di alam. 

Betapa hidup yang mereka bayangkan itu tidak sepenuhnya benar. Banyak agenda yang bercokol di benak, semua seakan minta dijadikan nomor satu. Belum lagi tuntutan dari yang berada di atas, kerja, tujuan, dan hasil. Semua bagai bintang yang menari di atas kepala meminta segera dituntaskan. Satu belum selesai, muncul yang lain, begitu sepertinya dari hari ke hari waktu ke waktu.
Andai diijinkan menjerit, akan penuh seluruh bumi dengan teriakan “tolong aku….!!!”, namun tidak seperti itu kenyataannya. Alam memberikan banyak kesempatan untuk menempa, menguji, terus dan terus sampai akhirnya waktu berkata, “kamu berhasil”. Walau kesempatan rehat sangat terbatas dan dibatasi. Masih bersyukur diberi kesempatan untuk menyandarkan punggung dan menghela dua, tiga tarikan napas.

Ini yang semua orang tak tahu. Saat mereka telah terlelap dalam buaian malam, mata ini harus tetap terjaga agar target bisa sampai tepat waktu. Panjang waktu istirahat otomatis jadi terpangkas, nyaris puasa jalan-jalan bahkan tamasya. Itu semua harus dijalani demi sebuah hidup, yang mungkin semua orang impikan dan inginkan.

Malam ini masih terjaga, di depan papan ketik masih merangkai kata. Semua orang tak kan pernah tahu yang diusahakan. Mereka hanya tahu, mapan, berkecukupan, bebas berkarya dan bergerak. Detik inipun berusaha selalu menyukuri segala nikmat yang telah Ia beri. Berusaha menahan keluhan, menghayati, dan menyelami setiap episode kenyataan. Meresapi segala nikmat agar tak luput untuk disyukuri, agar tak sia-sia hidup ini nanti, agar semua upaya dunia bisa terbawa mati.


#30dwc
#30dwcjilid20day7
#30dwcjilid20squad1
@30pejuangdwc

Selasa, 22 Oktober 2019

Mencari dengan Hati


Jika ingin mencari alasan, maka penggantian tas yang dipakai hari inil menjadi biang sebabnya. Mengganti tas dengan yang lebih kecil dan simpel menyebabkan kisah ini terjadi.

Sampai di lokasi yang dituju, ternyata gerbang telah ditutup. Padahal hanya beberapa detik saja ketertinggalan ini. Rombongan yang pada awalnya berada di belakang, kini telah masuk arena kegiatan. Tipis jedanya, di saat memarkirkan roda dua di tempat yang aman.
Barisan para santri yang tidak masuk arena dialihkan ke lapang kampus pendidikan tinggi yang berada di sana. Tak tertinggal masyarakat serta para pedagang menambah hiruk pikuk lokasi.
Di manakah bisa ditemukan mereka? Anak didik yang harus didampingi saat ini. Sekelebat putus asa menghampiri, tak ada yang bisa dihubungi karena tanpa sadar alat komunikasi tertinggal di rumah.

Berusaha mengitari lokasi yang dibatasi pagar tinggi dari luar arena. Memusatkan mata untuk bisa menandai seragam batik tanda pengenal pembimbing rombongan. Maju mundur, mengurai, mendesak pedagang, masyarakat, dan para pengunjung. Berapa lama akhirnya berpeluh. Mengambil langkah berpikir tenang, karena yakin pasti ada jalan menemukan barisan anak didik diantara ratusan atau bahkan ribuan kepala.
Sejenak berdiri dan berteduh di sebuah warung makan. Memandang kerumunan orang yang terus bergelombang di depan mata. Tetiba tertangkaplah seraut muka lelaki yang dikenal, sambil berseru, "Hai, bantu Ibu menemukan teman-temanmu".
"Tapi anak perempuan barisannya sebelah sana, Bu." Sambil menunjuk ke arah kanan.
"Ah, pokoknya usahakan Ibu bisa masuk arena saja." Permintaan terlontarkan jua.

Dari pintu pagar belakang, bagaikan masuk KRL rombongan orang masuk arena. Saat itu pula kehilangan sosok anak didik yang menunjukkan jalan tadi. Tak hilang asa, disusuri satu persatu barisan di tengah lautan manusia.  Alhamdulillah, mereka ditemukan khidmat di bawah paparan mentari. Tidak perlu pengumuman, seketika mereka menyadari ada sosok guru di belakang barisan mereka. Menghampiri, menyalami, bahkan sesi swafoto tak tertinggal sebelum kirab dimulai. Mencari dengan hati, bermuara pasti.

#30dwc
#30dwcjilid20day6
#30dwcjilid20squad1
@30pejuangdwc

Senin, 21 Oktober 2019

Angkot Akhir Pekan


Angkot Bandung


Hari Sabtu, turun dari Setiabudhi di wilayah Bandung utara menuju ke arah kota. Niat hati menuju Palasari, kawasan bursa buku murah di kota Bandung. Menyengaja pagi dari tempat saudara agar bisa naik angkot namun bisa tepat waktu di tempat tujuan. Semua angkot kota Bandung rata-rata berwarna hijau. Untuk membedakan trayek angkutan pemerintah kota Bandung membedakannya dari warna cat yang melintang di bagian bawah badan angkot, kalau tidak keliru, mengingatnya dengan kata selendang. Ada yang berselendang warna merah dengan angka 01 jurusan Cicaheum – Ledeng via Binong, yang berselendang hitam trayek CIcaheum – Ledeng via Aceh, yang biru trayek Kebon Kalapa – Ledeng dan lain-lain.

Menikmati kembali Bandung di pagi hari melalui kaca jendelanya. Belum macet karena hari masih pagi. Angkot yang ditumpangi masih kosong. Lalu ada seorang gadis berhijab turut naik bersama, akhirnya kami pun berdua. Sepanjang jalan beberapa orang naik dan turun. Karena jalanan masih lengang, tak ada jebakan macet  yang ditemui. Hawa masih sejuk, dan udara yang dihirup masih terasa segar. Isi angkot yang melompong tak mengubah mood pagi itu. Tak ada sesak apalagi aroma lain selain wangi sabun atau parfum dari penumpang yang naik turun. Tersadarkan sesaat, ternyata angin yang menyelinap lewat celah jendela mampu mengatupkan kelopak mataku pelan-pelan. Dibuanglah kantuk itu dengan iseng menjepret isi angkot dengan kamera ponsel.

Kekosongan angkot membawa pada aktivitas yang lebih leluasa. Dengan santai satu persatu tempat yang dilewati diamati dengan cermat. Mengeja dan mengenang kembali beberapa tempat yang sempat hapal. Berbagai perubahan alih tempatpun terjadi, sehingga membuat ingatan berpitar untuk menemukan celah jawaban tempat yang kini asing di ingatan. Terasa perjalanan ini lebih panjang dari sangkaan semula. Sampai pada akhirnya, di tempat yang tepat akhirnya turun. Terbaca dengan jelas nama jalan di sisi kiri angkot, P.H.H. Mustofa. Diserahkanlah sejumlang uang kepada bapak yang duduk di belakang kemudi. Pak sopir itu tak berkata apa-apa, yang terlihat ia hanya melongo seraya menepuk jidatnya, demi mendengar, “Ternyata saya salah naik angkot, Pak”.



#30dwcjilid20day5
@30pejuangdwc

Perempuan Tangguh



I
Ia bersama sang suami

Kamis pekan lalu, sore hari yang tampak mendung, memacu diri bersama ojeg daring kearah utara Bandung. Ada janji dengan seorang teman dekat untuk membahas beberapa program dan acara yang dilalui pada bulan November. Tiba di sebuah kedai makanan siap saji, disuguhi dengan kerlip lampu taman yang menggelantung di atas tempat duduk yang di tata rapi. Suasana sejuk sore itu bertambah syahdu dengan suara dedaunan yang saling bersinggungan satu sama lain.
Tak berapa lama yang ditunggupun datang. Menyelinap dari belakang, mendongakkan kepalanya, lalu tertangkap kamera saat akan swafoto untuk membumbui masa menunggu. Mengenalnya merupakan suatu hal yang luar biasa. Bersahaja, tak banyak bicara, low profile, cerdas, dan masih banyak sifat baik yang didapat darinya. Tak pernah bisa marah saat seharusnya ia marah. Kemarahan ia luapkan dengan intonasi bernada dan berirama. Tangguh, satu kata untuknya. Seorang ibu yang tak pernah mengeluh padahal aktivitasnya begitu padat. Seorang dosen dengan dua puteri dan satu putera yang masih berusia sekira 7 bulan. Aktivitas sebagai istri, ibu, dosen, ketua umum sebuah OKP tingkat provinsi, aktivis beberapa organisasi profesi, kepemudaan, dan kemasyarakatan, serta penulis puluhan buku bergenre anak-anak, ia jalani dengan mengagumkan. Dari semua yang ia jalani membuahkan beberapa penghargaan di tingkat provinsi dan nasional, bahkan lingkungan tempat ia berkarya menjulukinya sebagai bidadari litbang.
Setelah memilih tempat duduk yang apik, makanan dan minuman pun ia pesan. Tempat duduk yang dipilih cukup apik, tidak di sudut, tidak di tengah pula, dan tidak terganggu oleh lalu lalang para pengunjung. Meluncurlah rentetan kalimat-kalimat dari lisannya setelah kertas putih ia keluarkan dari dalam tas yang sedari tadi ia tenteng. Memetakan kemungkinan rencana, mengurai delegasi tugas untuk para anggota pimpinan, hal teknis yang akan dilalui, sampai taktik pencarian dana yang dibutuhkan. Larut dalam bincang hangat mengantarkan kami pada masa berkumandang azan maghrib. Saat itu pula tersadar harus segera beranjak untuk melanjutkan tugas di ranah yang lain. Tugas publik yang sedari pagi dilakoni harus beralih ke ranah domestic untuk keluarga, suami, dan buah hati. Tak terasa sayup azanpun mulai memudar, saat kami melangkah menuruni anak tangga di luar pelataran kedai. Teriring salam yang terucap, tak putus kagum pada sosok yang baru saja ditemui. Ibunda tangguh, begitu ia layak dijuluki.

#30dwcjilid 20day4
@30pejuangdwc